I. IDENTITAS
Judul buku: Tujuh Hari untuk Keshia
Pengarang: Inggrid Sonya
Penyunting: Pradita Seti Rahayu
Korektor: Pradita Seti Rahayu
Penata letak: Afrizal in Wahyudi
Desainer sampul: Dea Raedina
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2019
Cetakan: Pertama
Tebal buku: 448 halaman
Ukuran buku: 20 × 12 cm
Harga buku: Rp28.440,00
II. ORIENTASI
Novel Tujuh Hari untuk Keshia karangan Inggrid Sonya, seorang lulusan Politeknik Negeri Media Kreatif yang lahir pada 17 Juni 1997 di Jakarta pada jam 01:30 pagi lewat operasi caesar, sebuah fase kehadiran di bumi yang cukup rumit. Jadi, ketika hidupnya berhadapan dengan hal-hal sulit, dia akan menekankan pada dirinya sendiri bila dia pasti mampu melewatinya lagi dan lagi. Pernah menjadi seorang yang berkecimpung di PT Gramedia Pustaka Utama dan kini semakin mendalami kehidupan editor dan sebagai pekerja lepas dalam menulis berbagai karya. Dalam novel ini, dituliskan bahwa kisah ini bercerita tentang waktu, tentang kesempatan, tentang kehilangan. Bercerita tentang seorang perempuan yang tidak tahu banyak mengenai ranah hidupnya karena terlahir dari sebuah kesalahan. Seorang anak perempuan SMA tahun kedua yang mendadak ditinggal oleh sang ibu dan dipaksa hidup bersama dengan ayahnya yang sejak ia lahir tak pernah menampakkan figurnya. Hubungan ini begitu menarik perhatian resentator, berhubung resentator juga ingin dibubuhi cerita ayah-anak ini, siapa tahu relate dengan kehidupan asli.
III. SINOPSIS
Diawali latar waktu mundur, ketika sang tokoh utama sendiri; Keshia, menerima gaji mingguannya di tempat ia bekerja sebagai pelayan karaoke. Ketika sedang dalam perjalanan pulang usai kerja melelahkan di usia muda demi menunjang hidup dirinya dan orang yang ia sayangi, di dalam metromini Keshia sibuk menulis daftar keinginannya. Tepat saat keinginan terakhir, Keshia didistrak oleh seorang yang ia yakini laki-laki. Pucat pasi, semampai, dan auranya dingin. Kala itu, dengan suara bariton, lelaki tak dikenal mendekat dan mengatakan sesuatu dimana Keshia diberi waktu selama tujuh menit untuk memikirkan satu hal yang benar-benar diinginkannya. Keshia linglung, tidak sempat berpikir, selagi berjalannya waktu, metromini yang ditumpanginya tertabrak kereta. Lelaki itu tetap menghitung mundur sisa detik terakhir, hingga pada nafas terakhirnya Keshia berkata, "Ayah..". Bab selanjutnya menarik kita pada masa lalu, beberapa bulan sebelum kejadian. Masa yang kelam. Waktu Omanya meninggal dunia, Diana sang ibu malah sudah sibuk mengurus pernikahan seolah lupa akan ibunya sendiri. Terlebih ketika Diana ingin menjual kediaman mereka supaya mereka tinggal di rumah calon ayahnya. Dalam perjalanan yang entah kemana arahnya, pemberhentian mereka malah berada di suatu rumah tandus begitu suram. Mendadak Diana melempar koper Keshia dan mengatakan bahwa ia tidak bisa tinggal bersama Diana lagi. Keshia masih terdiam. Sekeluarnya sang pemilik rumah, langsung saja menampilkan pemuda dengan penampilan semrawut. Justru, Diana tiba-tiba saja bersikap akrab pada pemuda itu. Keshia merasa janggal tatkala mendapati reaksi linglung dari si pemuda ketika Diana memperkenalkan diri Keshia siapa. Tak lama, ibunya berubah, ia tidak mengenal Keshia, senyumnya berubah marah, ia membuang Keshia dan pergi begitu saja. Keshia yang kala itu sibuk meratapi nasibnya merasakan ajakan sang pemuda untuk tinggal bersamanya seperti yang disampaikan ibunya. Alih-alih menerima uluran tangan, Keshia malah menumbuk pemuda itu dan pergi, meninggalkan si pemuda —Sadewa— dalam keterkesimaan. Nyatanya, Keshia cuma duduk di trotoar depan rumahnya. Harapan agar anak itu pergi, pupus. Dengan setengah hati Sadewa mulai menanyai Keshia namun anak itu tetap diam. Dari segala usaha akhirnya Keshia mau masuk ke rumahnya walau tetap ada drama yang menyertai. Keshia kesulitan hidup di rumah yang serba kekurangan sampai kompor pun tidak menyala. Semua kekacauan mulai terjadi hingga mau tak mau Sadewa bercerita pada teman-teman di pub. Tentu mereka terkejut, kecuali River si remaja muda yang tetap menunjukkan wajah datar. Sadewa penuh akan ingatan masa lalu, terdiam merutuki nasib, namun River justru menentang pemikiran Sadewa dan mengucapkan selamat pada Sadewa yang berhasil memiliki gelar 'Ayah'.
Seminggu setelah kepergian Diana, Keshia sampai susah tidur. Semakin sakit hatinya ketika bangun di rumah Sadewa. Banyak sikap Keshia yang masih belum bisa diterima Sadewa, salah satunya ketika Keshia sekadar ingin masak dan meminta uang untuk membeli gas, masih saja harus ada keributan. Mau tak mau, Keshia harus merelakan uangnya sendiri dan pergi ke kedai terdekat. Dibalik kesialan itu, Keshia masih bisa bersyukur karena jarak ke sekolah semakin dekat.
Di kedai, tersadarlah Keshia bahwa Sadewa memiliki banyak penggemar, kebanyakan ibu-ibu komplek, Keshia tak habis pikir. Sepulangnya, ia malah kembali kesal ketika Sadewa sangat santai melewati lantai basah usai Keshia mengepel. Keshia berkata bahwa kewarasan membuat seseorang juga peduli akan kesehatan, kalau sebaliknya berarti sudah gila. Sadewa tidak terima akan cacian itu dan lagi-lagi mereka bertengkar mulut. Keshia pergi sekolah sembari menguatkan hatinya dengan ingatannya akan Oma yang selalu mendukungnya. Tidak sadar bahwa ada orang yang menginformasikan kehadirannya pada seseorang di sekolah lain sampai-sampai seseorang itu bolos dan menyusul ke sekolah Keshia. Keshia yang sibuk menjual kue di kantin ternyata diperhatikan oleh orang tersebut, River. River menelisik Keshia, orang yang membuat hatinya tenang. Namun perlahan luntur ketika River mendapati Keshia terluka, ia meminta tolong pada temannya untuk memberikan P3K pada Keshia dan mengobati perempuan itu. Keshia memang sangat memerlukan waktu untuk pulih dari emosinya dan Sadewa harus beradaptasi dengan sikap penghuni baru rumahnya. Awalnya, Sadewa merasakan rumah yang dipenuhi cacian dan kekecewaan. Namun semakin Sadewa sadar, Sadewa perlu mencoba memahami hati sang anak. Perlahan mulai memberlakukan Keshia seperti anak gadis biasanya, memberikan perlakuan dari seorang ayah yang belum pernah Keshia rasakan sebelumnya. Suasana rumah juga ikut berubah, relasi antara mereka pelan-pelan membaik. Sadewa pikir tak ada lagi kekacauan dalam hidupnya, namun pertahanannya runtuh ketika Keshia mengalami kecelakaan mendadak dan dinyatakan meninggal. Sadewa merutuki segala hal, sangat menyesal, terpuruk dan yakin tak ada satupun harapan di dunia yang mampu menolongnya kembali hidup. Hingga sampai suatu keajaiban datang, memberi kesempatan bagi Sadewa dengan syarat tujuh hari yang diberikan padanya untuk kembali merasakan eksistensi Keshia di dunia. Sejak saat itu, Sadewa sadar akan tujuan hidupnya, fokus pada hal itu saja yaitu membuat Keshia mengetahui dan mengalami apa arti bahagia di tengah kegulitaan yang terus mengikuti.
IV. ANALISIS
Buku ini memiliki keunggulan yang mengenalkan banyaknya istilah-istilah baru yang resentator belum ketahui artinya. Dapat mendeskripsikan alur beserta penokohan tokoh yang mudah ditangkap, tidak bertele-tele atau on point, diksi yang tidak membosankan, kalimat-kalimat tokoh yang menyentuh sehingga menciptakan suasana yang selalu cocok di setiap adegan, dan pengembangan watak para tokoh yang bagus. Buku ini merupakan pengalaman pertama resentator dalam membaca novel hubungan antar ayah dan anak, jadi saya belum menemukan adanya kemiripan dengan karya lain. Sayangnya, saya sedikit kecewa ketika karakter utama tidak memiliki banyak adegan dengan salah satu karakter bernama River, pertemuan mereka terbilang buruk dan sedihnya memiliki konservasi yang sedikit satu sama lain. Padahal kedua tokoh ini bisa saja menambah suasana romansa remaja yang terkadang dinanti para pembaca sebagai pemanis di tengah kehidupan Keshia yang sulit. Lalu, pembalasan untuk perilaku tokoh jahat yang kurang memuaskan padahal termasuk sesuatu yang saya nantikan namun tidak ada diadegankan.
V. EVALUASI
Terlepas dari keluhan saya, buku ini cukup saya rekomendasikan bagi kalian yang ingin merasakan suasana melankolis akan hubungan orangtua dengan anak. Buku ini juga mengedukasi kita untuk menunjukkan sikap yang seperti apa jika kita sebagai anak, atau sebagai orangtua. Walau tampaknya cerita buku ini mengarah pada suasana sedih, akan tetapi masih terdapat guyonan dan lelucon yang menghibur pembaca.
| ginana, 23/05/2023
Komentar
Posting Komentar